NIKAH DINI, NO!

MTsN7-NGK- 18/03 Anak-anakku, berapa usia kalian saat ini? Adakah diantara kalian yang sudah ingin menikah atau merencanakan untuk menikah setelah lulus MTs? Atau, adakah diantara kalian yang sudah dijodohkan oleh orang tua selepas dari MTs? Kira-kira apa yang akan terjadi jika ternyata kalian menikah di usia dini, dibawah 17 tahun, misalnya? Sejumlah pertanyaan-pertanyaan terlontar oleh Pak Rosyid, kepala MTsN 7 Nganjuk yang mengawali sambutannya pada acara ‘Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini’ oleh tim Penyuluh Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk yang bertugas di wilayah Kecamatan Berbek. Suasana riuhpun mewarnai ruang aula MTsN 7 Nganjuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan penggugah pagi itu. Sungguh tema yang menarik buat anak-anak remaja seusia MTs. Suasana menjadi semakin heboh ketika Mas Alamin, S.Pd.I dan Mbak Luklu’il Maknun 2 orang penyuluh pada kantor kementerian agama kabupaten Nganjuk memandu obrolan, diskusi, tanya jawab, problem solving, dan sebagainya.

Cegah Perkawinan Anak merupakan komitmen Kementerian Agama dalam rangka membangun generasi berkualitas. Melalui para penyululuh yang tersebar di berbagai daerah di kecamatan-kecamatan kabupaten Nganjuk, Kementerian Agama terus melakukan upaya serius pencegahan perkawinan anak. Perkawinan anak sering kali menimbulkan persoalan susulan seperti perceraian dan stunting. (https://kumparan.com/kumparannews/kemenag-komitmen-cegah-perkawinan-anak-bangun-generasi-berkualitas-21NT7WOCXI4/3). Kamarudin Amin, Dirjen Bimas Islam pada Seminar Nasional Cegah Kawin Anak di Makassar, Rabu (11/10/2023) lalu menyampaikan bahwa pemerintah punya ambisi untuk menekan angka kawin anak menjadi 14 persen di tahun 2024.

Guna mendukung program Kementerian Agama tersebut, MTsN 7 Nganjuk bekerjasama dengan tim Penyuluh Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk yang bertugas di wilayah Kecamatan Berbek, Mas Alamin, S.Pd.I dan Mbak Luklu’il Maknun pada hari Senin, 18 Maret 2024 mengadakan ‘Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini’. Berbagai materi disampaikan secara interaktif oleh 2 orang penyuluh andalan kecamatan Berbek tersebut. Materi tersebut meliputi:

  1. Pengertian Perkawinan
  2. Pernikahan Dini
  3. Sebab-sebab Terjadinya Pernikahan Dini
  4. Dampak Pernikahan Dini
  5. Tujuan Pencegahan Pernikahan Dini
  6. Asas Pencegahan Pernikahan Dini
  7. Upaya Pencegahan Pernikahan Dini

Lebih lanjut menurut Mas Alamin, S.Pd.I dan Mbak Luklu’il Maknun, perkawinan anak akan melahirkan sejumlah dampak negatif. “Perkawinan anak memiliki dampak negatif baik secara fisik, sosial, maupun psikologis. Secara fisik, anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun lebih berisiko mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan, serta kematian ibu dan anak,” ungkapnya. Secara sosial, anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun lebih rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi. Sementara secara psikologis, anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun lebih rentan mengalami depresi, kecemasan, dan trauma,” imbuhnya. “Dengan bekerja sama, kita dapat mewujudkan generasi yang berkualitas dan bebas dari perkawinan anak,” pungkasnya.

 

“Pernikahan adalah keputusan besar, dan penting untuk mempertimbangkan dengan matang sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Jangan bermain-main dengan pacaran. Terus belajar dan berkarya. Ketika sudah siap secara fisik, psikologis, dan usia sesuai Undang-undang yang berlaku, jangan tunda lagi, segeralah menikah” pesan Pak Rosyid di akhir sambutannya. Syaf.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top