NGANJUK – Keindahan Kabupaten Nganjuk hadir dalam balutan gerak dan harmoni di panggung Nganjuk Literafest 2026. Sanggar Tari MTsN 7 Nganjuk sukses memukau penonton melalui sebuah karya tari baru bertajuk “Pesona Anjuk Ladang” yang dipentaskan di Gedung Wanita Kabupaten Nganjuk, Kamis (8/10/2026).
Dengan gerakan yang dinamis, anggun, dan penuh ekspresi, para penari muda MTsN 7 Nganjuk yang dibimbing oleh Ibu Muji Sri Rahayu, S.Pd. membawa penonton menyusuri imajinasi tentang kekayaan alam dan pesona wisata Kabupaten Nganjuk. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi sajian seni, tetapi juga sebuah bentuk kecintaan generasi muda terhadap daerahnya.
Tari “Pesona Anjuk Ladang” dirancang sebagai karya yang menggambarkan keindahan berbagai destinasi wisata kebanggaan Nganjuk. Pesona Air Terjun Sedudo, Roro Kuning, Singokromo, serta berbagai destinasi wisata lainnya dihadirkan melalui bahasa tubuh, irama, ekspresi, dan komposisi gerak yang artistik. Setiap gerakan seolah mengajak penonton untuk menikmati kesejukan alam Nganjuk, hijaunya lereng Gunung Wilis, gemericik air terjun, serta keindahan bentang alam yang menjadi kekayaan daerah.
Kabupaten Nganjuk memang memiliki kekayaan destinasi wisata alam yang beragam. Dokumen perencanaan daerah mencatat sejumlah destinasi unggulan seperti Sedudo, Roro Kuning, Singokromo, Watu Lawang, serta berbagai air terjun dan kawasan wisata alam lainnya.
Dari Keindahan Alam Menjadi Karya Seni
Yang membuat penampilan Sanggar Tari MTsN 7 Nganjuk semakin istimewa adalah lahirnya sebuah karya tari baru yang mengangkat potensi lokal. “Pesona Anjuk Ladang” bukan sekadar tarian untuk mengisi panggung festival. Karya ini merupakan bentuk kreativitas siswa dalam menerjemahkan kekayaan daerah ke dalam karya seni. Melalui tarian tersebut, para siswa seolah ingin menyampaikan pesan: “Nganjuk bukan hanya tempat kita tinggal. Nganjuk adalah tanah yang indah, kaya budaya, kaya alam, dan layak kita banggakan.”
Air Terjun Sedudo yang telah lama menjadi salah satu ikon wisata Nganjuk, Roro Kuning yang menawarkan keindahan alam di lereng Wilis, serta Singokromo dengan suasana alamnya yang asri menjadi bagian dari inspirasi karya tersebut. Sedudo bahkan tercatat sebagai salah satu destinasi dengan kunjungan wisatawan yang tinggi di Kabupaten Nganjuk.
Literasi dalam Gerak dan Budaya
Penampilan ini sekaligus memperlihatkan bahwa literasi memiliki ruang yang sangat luas.
Literasi bukan hanya membaca buku dan menulis. Literasi juga berarti mengenal lingkungan, memahami sejarah, mencintai budaya, mengembangkan kreativitas, dan mampu menyampaikan pesan melalui karya. Melalui Tari “Pesona Anjuk Ladang”, siswa MTsN 7 Nganjuk belajar membaca kekayaan daerahnya, kemudian menerjemahkannya menjadi sebuah karya seni yang dapat dinikmati masyarakat. Inilah literasi budaya dalam bentuk yang nyata.
Dari alam menjadi inspirasi. Dari inspirasi menjadi gerak. Dari gerak menjadi karya. Dan dari karya tumbuh rasa cinta terhadap daerah.
Mengajak Masyarakat Mengenal Nganjuk
Lebih jauh, karya “Pesona Anjuk Ladang” juga membawa pesan promosi wisata.
Keindahan Nganjuk tidak hanya untuk dibanggakan, tetapi juga untuk dikenalkan dan dikunjungi. Sedudo, Roro Kuning, Singokromo, Watu Lawang, dan berbagai destinasi lainnya memiliki karakter serta daya tarik masing-masing.
Melalui panggung Literafest 2026, para siswa MTsN 7 Nganjuk seakan mengajak masyarakat:
“Ayo kenali Nganjuk. Ayo cintai Nganjuk. Ayo kunjungi wisata Nganjuk. Dan mari bersama menjaga keindahannya.”
Bangga Menjadi Generasi Anjuk Ladang
Penampilan Sanggar Tari MTsN 7 Nganjuk di Literafest 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi pernyataan kebanggaan generasi muda terhadap tanah kelahirannya. Di atas panggung Gedung Wanita Nganjuk, para penari tidak hanya mempersembahkan gerakan. Mereka mempersembahkan cerita tentang tanah yang indah. Tentang air yang mengalir dari pegunungan. Tentang hijau pepohonan di lereng Wilis. Tentang wisata yang menyimpan pesona.
Tentang budaya yang terus diwariskan. Dan tentang generasi muda yang bangga menyebut dirinya bagian dari Anjuk Ladang.
“Pesona Anjuk Ladang” adalah karya. Tetapi lebih dari itu, ia adalah rasa cinta. Cinta kepada Nganjuk. Cinta kepada budaya. Cinta kepada alam. Dan cinta kepada tanah kelahiran.
Sanggar Tari MTsN 7 Nganjuk telah menunjukkan bahwa dari madrasah dapat lahir karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa pesan, identitas, dan kebanggaan daerah.
MTsN 7 Nganjuk: Menebar Cinta, Mengukir Prestasi, Menginspirasi Generasi.
Anjuk Ladang indah untuk dikenang, bangga untuk dibanggakan, dan Nganjuk selalu layak untuk dikunjungi.
(Humas MTsN 7 Nganjuk; Foto: Rahayu)
