Kota Batu (16-18 September 2026) — Menjadi Waka Kesiswaan bukan sekadar mengatur kegiatan peserta didik, menegakkan tata tertib, atau memastikan program kesiswaan berjalan. Lebih dari itu, Waka Kesiswaan memiliki peran penting dalam membangun ekosistem madrasah yang aman, berkarakter, humanis, dan berpihak pada murid. Semangat itulah yang dibawa oleh Padmiasih, S.Pd., Waka Kesiswaan MTsN 7 Nganjuk saat mengikuti kegiatan Penguatan Kapasitas Waka Kesiswaan Jenjang MI, MTs, dan MA se-Jawa Timur Tahun 2026 di Kusuma Agrowisata Hotel, Kota Batu, Malang, 16–18 September 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Waka Kesiswaan & Kepala MIN 4.0: Pemimpin Kreatif, Penggerak Potensi, dan Katalisator Karakter Siswa.”
Bagi Waka Kesiswaan MTsN 7 Nganjuk, momentum ini bukan hanya kesempatan untuk menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang berefleksi tentang bagaimana mendampingi murid dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan penuh cinta.
Memimpin dengan Cinta, Mendampingi dengan Hati
Salah satu materi yang sangat relevan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah sesi “Memimpin dengan Cinta”, yang menempatkan Waka Kesiswaan sebagai arsitek ekosistem madrasah yang aman, berkarakter, dan berdampak. Pesan tersebut sejalan dengan semangat MTsN 7 Nganjuk dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membangun karakter, kepedulian, rasa aman, dan penghargaan terhadap setiap murid.
Dalam perspektif KBC, murid bukan sekadar angka dalam daftar hadir, bukan sekadar capaian dalam laporan, dan bukan pula sekadar objek aturan. Murid adalah amanah yang harus didampingi, dihargai, dan ditumbuhkan potensinya dengan cinta. Karena itu, kepemimpinan kesiswaan perlu menghadirkan keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang, disiplin dan empati, aturan dan kemanusiaan.
Dari Disiplin Positif hingga Perlindungan Anak di Ruang Digital
Penguatan kapasitas semakin lengkap dengan materi tentang pendekatan disiplin positif dalam merespons kekerasan dan eksploitasi seksual online pada anak (OCSEA). Materi ini mengarahkan perhatian peserta pada pentingnya perlindungan anak di ruang digital.
Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai Psychological First Aid (PFA) dalam penanganan masalah mental siswa. Hal tersebut memperluas perspektif pengelolaan kesiswaan bahwa perhatian kepada murid tidak berhenti pada aspek akademik maupun kedisiplinan, tetapi juga menyentuh kebutuhan psikologis mereka. Sementara itu, kegiatan outbound dan leadership team building menjadi sarana penguatan karakter, kerja sama, dan kepemimpinan.
Belajar di Kota Batu, Kembali Membawa Energi Baru
Tiga hari mengikuti kegiatan di Kota Batu menjadi perjalanan belajar yang tidak berhenti di ruang pertemuan. Pada sesi akhir, peserta melakukan evaluasi program, menyusun rencana aksi, serta mempresentasikan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Dari forum inilah diharapkan lahir langkah-langkah nyata yang dapat diterapkan di madrasah masing-masing.
Bagi MTsN 7 Nganjuk, keikutsertaan Waka Kesiswaan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus memperkuat tata kelola kesiswaan yang humanis, aman, berkarakter, ramah anak, dan berbasis cinta. Sebab, pada akhirnya, keberhasilan kesiswaan bukan hanya tentang seberapa tertib murid mengikuti aturan. Keberhasilan yang lebih bermakna adalah ketika murid merasa aman, dihargai, didampingi, menemukan potensinya, lalu tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berprestasi.
Dari kepemimpinan yang berbasis cinta, lahir pendampingan yang menyentuh hati. Dari pendampingan yang menyentuh hati, tumbuh murid yang percaya diri, berkarakter, dan siap menjemput masa depan. MTsN 7 Nganjuk — Membersamai Murid dengan Cinta, Mengantarkan Mereka Menuju Masa Depan.
(Humas MTsN 7 Nganjuk; Foto: Padmiasih)
